PENGUMUMAN

 

PENGUMUMAN PELELANGAN SEDERHANA DENGAN PASCAKUALIFIKASI

Panitia Pengadaan Barang/Jasa Satker PKP2A II LAN akan melaksanakan Pelelangan Sederhana dengan Pascakualifikasi untuk paket pekerjaan pengadaan Jasa Lainnya ... selengkapnya

Kampanye RB Kementerian Perdagangan

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
Jakarta – Pemberdayaan masyarakat dalam menangani masalah sampah plastik melalui peningkatan nilai ekonomi sampah plastik menjadi hal yang mutlak dilakukan dalam upaya mengurangi volume sampah plastik yang semakin mencemari laut Indonesia. Demikian yang mengemuka dalam focus group dicussion (FGD) Rencana Aksi Instansional Kementrian Perdagangan dengan tema Pengendalian Penggunaan Kemasan Produk Plastik, yang digelar peserta Diklat Leader Reform Accademy (LRA) IX – Lembaga Administrasi Negara (LAN), di Jakarta, Kamis, (19/10/2017). Deputi SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Safri Burhanudin selaku pembicara utama mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah China. Menyikapi hal tersebut, sesuai instruksi presiden, pemerintah menargetkan mengurangi sampah plastik di laut sampai 70% selama delapan tahun mendatang. Menurutnya, salah satu tahapan yang dilakukan, pemerintah akan memperhatikan masalah sistem keuangan dan pendanaan dalam pengelolaan sampah. Tak hanya itu, pemerintah juga tengah mengkaji penggunaan sampah plastik sebagai bahan baku tambahan pembuatan jalan raya dengan aspal plastik. “Kalau dalam satu kilometer jalan 10% kita ganti dengan plastik, keuntungan pertama kita kurangi sampah yang ada dengan menggunakan plastik, kita bisa kurangi biaya pembuatan jalan. India telah melakukan ini, hingga saat ini tak ada jalan yang retak, perawatan pun tidak ada,” kata dia. Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengungkapkan pihaknya tengah mengupayakan kemandirian pengelolaan sampah.  Dalam kesempatan itu, dia juga mengusulkan kemandirian pengelolaan sampah untuk pasar tradisional. “Untuk ini memang perlu ada revitalisasi pasar tradisional, namun jika ini dapat dilakukan akan sangat berdampak besar,”katanya. Sementara Saut Marpaung dari Asosiasi Pengusaha Daur Ulang Plastik Indonesia (Apdupi)  mengharapkan pemerintah melibatkan lebih banyak pengusaha daur ulang dalam pengelolaan sampah plastik. Menurutnya, para pelaku bisnis daur ulang mengetahui mana sampah yang bernilai tinggi dan yang tidak. Dia juga menekankan masih belum teroganisirnya pengelolan daur ulang sampah yang menyebabkan pengelolaannya belum bisa maksimal. “Kedepan bagaimana menciptakan koordinasi diantara stakholder, baik bank sampah, lapak, pengepul, penggiling ini bagaimana supaya bisa berjalan sama-sama, bersinergi secara maksimal, ini pekerjaan rumah bersama,”katanya. Sementara Direktur Yayasan Rumah Pelangi, Nurhilamudin menekankan pada upaya bagaimana mengangkat kepedulian masyarakat terhadap sampah. Karena itu, kegiatan yang dilakukan Yayasan Rumah Pelangi yakni pembentukan Bank Sampah sebagai sebuah upaya mengurangi sampah dari sumbernya. Menurutnya, hingga saat ini kesadaran masyarakat bahwa ada nilai ekonomis yang tinggi dari sampah masih rendah. Hal ini disebabkan masih sangat rendahnya harga sampah plastik di pasaran, dan masih banyak sampah yang belum punya nilai jual. “Harga sampah platik perkilo gram di masyarkat hanya Rp. 800 per kilo gram, ini karena mata rantai yang ada di bisnis sampah hingga harga di masyarakat sangat rendah,” tuturnya. Rencana Aksi Instansional Kementrian Dr. Tatang Akhmad Taufiq selaku mentor dalam diklat LRA mengungkapkan, dalam upaya mengurangi sampah di laut bukan hanya sekedar isu ekonomi,  namun sosial budaya, karena itu dalam Rencana Aksi Instansional Kementrian yang dilakukan peserta Diklat LRA adalah dengan langkah-langkah yang multi aspek seperti pendidikan, pengembangan awarnesmasyarakat, bagaimana mengubah mindset, dan mengembangkan keterampilan baru. “Itu sebabnya kita mencoba memetakan kegiatan-kegiatan yang diusulkan, ada kegiatan yang sifatnya kuratif, mengatasi masalah, bagaimana kita melakukan pencegahan prefentif, dan ketiga yang ketiga upaya mengubah mindsetmasyarakat, pola pikir, gaya hidup, dan juga mengembangkan keterampilan baru, mencari alternatif dalam pengolahan sampah plastik,” jelasnya. Sementara salah seorang peserta diklat, Sindu Utomo (Kementrian Perdagangan RI) mengatakan, sampah plastik memiliki nilai tambah dari sisi perekonomian masyarakat. Selama ini masyarakat baik perorangan maupun melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah berupaya menangani masalah sampah dengan mengedepankan sisi eknomi sampah plastik itu sendiri. “Di masyarakat kita ada banyak upaya penanggulanngan dan pemanfaatan sampah plastik, ada yang pribadi ada juga kelompok seperti bank sampah. Namun ini perlu lebih terorganisir, karena banyak industri di Indonesia yang lebih memilih mengimpor bahan baku plastik dari luar, karena ada kepastian, lebih terorganisir,” ujarnya. Menurutnya, hasil dari FDG ini akan disimpulkan untuk kemudian akan dibawa dalam sebuah seminar yang akan dilaksungkan di Makasar, Sulawesi Selatan. Sumber: http://mikronews.com/penting-upaya-peningkatan-nilai-ekonomis-sampah-plastik/

Login Form

Survei Pelayanan

view.jpg

Bantu kami melayani anda lebih baik 

 

 

Quote of the Day

"Saya memulai sesuatu saat orang lain meninggalkannya" - Thomas Alpha Edison (1847-1931)

"Seorang yang tak pernah membuat kesalahan, dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru" - Albert Einstein 

Kami Disini

Nilai Dasar Kami

 

Mitra Kerja Kami

 

 

 

 
Copyright © PKP2A II LAN 2014. All rights reserved.
Designed by olwebdesign.com